Hari ini hari Ayah. Iya, hari di mana semua anak yang lahir pasti punya ayah. Yah, walau gak semua beruntung bisa tahu siapa ayahnya atau di mana ayahnya sekarang.
Hari Ayah, di mana semua anak yg masih punya ayah di dunia berlomba-lomba memberikan kado teristimewa untuk ayah mereka masing-masing, bersikap baik barang sehari untuk menyenangkan ayah, sekedar memijat bahu ayah yg baru saja pulang kerja atau menyediakan ayah kopi tanpa diminta. Semua dilakukan secara khusus demi ayah di hari ayah.
Hari Ayah, di mana semua anak yg masih punya ayah di dunia berlomba-lomba memberikan kado teristimewa untuk ayah mereka masing-masing, bersikap baik barang sehari untuk menyenangkan ayah, sekedar memijat bahu ayah yg baru saja pulang kerja atau menyediakan ayah kopi tanpa diminta. Semua dilakukan secara khusus demi ayah di hari ayah.
Gak terlepas gue sebagai seorang anak, gue juga punya ayah atau gue lebih senang memanggil beliau dengan kata ganti "Best". Entah dari mana berawal gue manggil ayah gue begitu, mungkin karna memang beliau adalah the best daddy I ever had and no one can't change his position. Balik lagi, hubungan gue sama best terbilang sangat dekat, terlebih saat orang tua gue cerai waktu umur gue baru 8 tahun. Adik gue ikut nyokap dan gue entah mengapa lebih memilih ikut dengan best yg selalu salah dan dinilai tidak berkualitas sebagai suami atau ayah oleh nyokap.
Hidup berdua dengan best yg notabene adalah seorang pria dewasa dengan prinsip teguh (juga ada sisi humoris yg mungkin nurun ke gue saat ini) bukanlah perkara mudah. Saat itu best baru aja bangkrut dari usahanya di Jakarta dan harusin kita pulang ke rumah nenek di kampung di Sambas, Kalimantan Barat. Hidup sama best yg sementara pengangguran dan pekerja serabutan bukanlah hal mudah, tapi entah kenapa gue nyaman dengan suasana yg begitu. Hidup apa adanya, sesederhana mungkin dan perasaan down gue yg ditinggal nyokap hilang sekejap.
Gak lama, best mulai bangkit dengan mulai niti usaha bareng temennya dan di sana mulai gue bisa ngerasa hidup layak selayaknya bocah SD berumur 9 tahun. Singkat cerita, naas best yg dari dulu terkenal bandel dengan teman-temannya terkena struk dan usaha yg baru saja dibangun kembali bangkrut. Dengan keadaan begitu tentu best gak mampu berbuat banyak buat gue apalagi pembiayaan gue yg semakin hari bakal semakin mencekik batinnya, dengan berat hak asuh gue best kembaliin ke nyokap. Semenjak itu gue yg masih kecil udah gak pernah ketemu sama best lagi. Tragis.
Gue yg saat itu belum paham tentang kehidupan, percaya kalau best bakal bahagia walau sendiri sesuai dengan racun yg nyokap suntikin ke otak gue buat berpikiran begitu. Waktu umur gue 12 tahun, masa-masa gue mulai mencari tau keberadaan best dan gue bisa nemuin best tetap di rumah nenek gue. Perasaan hancur yg bisa gue ungkapin saat ketemu lagi setelah 4 tahun pisah, hidupnya berantakan, serba kekurangan dan tetap bertahan dengan sakitnya. Hancur.
Selang beberapa bulan, best akhirnya meninggal. Gue ada di sampingnya saat best menghembus nafas terakhir. Air mata gue kayaknya udah terlalu cukup buat gue keluarin, cuma tersisa tatapan kosong akan saat itu dan masa depan. Salah satu kunci gue menuju dewasa hilang dan pergi gitu aja di depan mata gue. Tanpa ada pesan-pesan terakhir. Dengan tatapannya yg sama dari dulu yg selalu saja serius dan tegas, best akhirnya menghadap Bapa. Menyisakan pukulan berat bagi gue dan bibirnya yg terkatup seolah berbisik "Papa selesai, sekarang kamu".
Sampai di hari pemakaman, tatapan gue masih tetap kosong, seolah gak percaya, dan masih menganggap bahwa ini adalah salah satu lelucoan beliau yg terakhir. Sekarang udah 8 tahun semenjak best pergi ninggalin gue dan gue masih belum tau harus bagaimana buat hadapin hidup. Pada intinya, gue udah banyak belajar dari pengalaman hidup best dan gak akan ada ayah yg lebih baik dari beliau. Cause best is best and worst is worst. Love you, best daddy.
No comments:
Post a Comment